Laman

KALI INI BERUPA WAJAH CINTA

Beranjak sadar meninggalkan aliran malam yang siap mengalir ke peraduan lantas bertukar peran dengan pagi, sontak saja kau datang menyapaku tanpa ekspresi dan menodongkan tolong yang hening,


“Bantu aku melupakan cinta…!!!”.

Selintas terhentak, diam coba mengumpulkan sadar yang setengahnya telah tertelan malam, dan mungkin seperempatnya telah direnggut pagi, aku berpikir harap semua sadarku ditelan malam sebab menelan sadarku setengahnya menyakitkan..

“Mengapa hal itu mengganggumu…?”

Sendu matamu kemudian menjawab tanyaku sebelum kau mengungkap jawabmu, walau tak yakin lengkap aku menangkap maknanya…

“Bantu aku melupakan orang yang ku cintai…!!!”

Merintih tak sabar kau kini, rupanya belenggu sesak tak tertahankan menghimpit dada dan aliran nafasmu hingga berat kau paksa suaramu keluar, efeknya buliran air mata menggenangi kelopak matamu, meski belum meluap jadi bedak di wajahmu…

“Kau masih belum berubah fikir tentang cinta, hidup, dan manusia..” Mengoreksi arus fikirmu awalku,

“Hidup dan manusia itu manifestasi cinta,,”

Coba mengumpulkan hikmah kata-kata dalam buku-buku cinta yang pernah telintas dan masih tersimpan di memori…

“Coba melupakan cinta dan orang-orang yang dicintai adalah kemustahilan dan itu pengingkaran hidup dan kemanusiaan…
Cinta punya banyak wajah, manusia punya banyak pilihan untuk memilih wajah cinta dalam hidup agar sesuai dengan ekspresi fitrahwinya…”

Sedikit mengambil jedah coba mengartikan wajahmu adakah sanggahan, untuk melihatmu memahami perkataanku. Tak ada pemberontakan di diammu, aku simpulkan kau menanti akhir penjelasannya…

“Mencari kenal ekspresi-ekspresi cinta adalah keniscayaan, agar mampu manusia menentukan ekspresi cinta sejati, ekspresi cinta hakiki, bukan sekedar topeng ekspresi cinta, bukan sekedar kepalsuan yang berbalut nama cinta...”

Kau berdiri membelakangiku, tanpa seucap kata dan ekspresi pun yang bisa jadi kesimpulan fikirku. Beranjak lalu kau menyisahkan titik dan sirna, aku tak harus meyakinkan puasku kau cukup paham atau tidak, yang aku paham pasti kau akan kembali lagi dengan sodoran tanya, tolong, debat, dan kisahmu lagi.
Bergegas aku mengejar sisa sadarku yang tadi telah ditelan malam, berharap belum tertinggal jauh dan belum pula pagi menangkapku sebelum ku penuhi sadarku pada malam.

0 komentar:

Poskan Komentar

Budayakan tinggalkan komentar setelah membaca apalagi mencopy abis... Plis Deh...