Laman

Ketika Aku dan Kau Tak Menjadi Kita

Belum terlalu lama beberapa waktu yang lewat , ketika seorang kawan tiba-tiba menelfon sambil menangis, menceritakan keputusan besarnya, bahwa ia telah memilih untuk mengakhiri sebuah hubungan panjangnya yang telah ia jalani tak kurang dari lima tahun, ia memutuskan untuk membina hubungan yang lebih bertanggungjawab dan diridhoi Allah dengan seorang yang datang secara ksatria kepada bapaknya. Namun keputusannya itu membuat ia harus melawan persaannya, sebuah keputusan yang tak mudah. Saya lebih banyak diam jadi pendengar, sebab saya tahu ia hanya butuh membagi bebannya, selebihnya waktu akan membuatnya lebih kuat.

Juga belum lama, beberapa waktu yang lalu, oleh sahabat yang lain, juga dengan tersedu melalui telefon, berbagi perasaannya, kekecewaanya, juga usahanya untuk berdamai dengan perasaannya, ketika harapan-harapan indah tentang sebuah bangunan cinta yang sudah di depan mata, tiba-tiba begitu saja rata dengan tanah, runtuh dan punah, tragisnya oleh sebuah alasan yang sangat susah ia terima.

Dan masih oleh seorang sahabat lagi beberapa waktu berselang, bertutur dalam suara yang lirih juga melalui telefon, bedanya ia tak menangis, mungkin karena ia seorang lelaki. Bahwa ia begitu kecewa ketika sebuah komitmen yang telah ia bangun tiba-tiba dibunuh secara sepihak, dan tak bisa berbuat banyak kecuali menerima dan bersikap lapang dada.

Mendengarkan tutur sahabat-sahabat tadi , membuat saya teringat pada suatu siang, beberapa tahun silam, berbincang di halaman sebuah masjid, ketika seorang sahabat tiba-tiba bertanya, "apakah engkau percaya pada cinta sejati"? Saya tak menjawab, hanya tersenyum. Menurutnya banyak orang yang awalnya saling mencinta, kemudian tiba-tiba saling membenci. Kenyataanya banyak orang yang mulanya berkasih sayang kemudian saling bermusuhan. Perbincangan tak selesai, lalu kami pun berpisah membawa imajinasi masing-masing.

Bertahun kemudian, pada suatu malam, duduk di tepi jalan, ketika sahabat yang sama waktu itu, kembali membuka cerita tentang cinta. Tak lagi bertanya, ia justru bercerita tentang pencariaanya, tentang perjalanan cintanya yang tak sampai, malah membuatnya mengerti tentang cinta, cinta yang jujur, tegasnya demikian.
Bahwa cinta tidak berlokus di dalam diri, tapi berorientasi pada yang dicinta. Cinta pada maqam ini, tak lagi perlu diberi, tapi selalu ingin memberi. Tak butuh dilayani justru berbahagia dengan melayani. Kebahagiaan sang pencinta hadir ketika ia memberi, melayani bahkan berkorban. Saat itu cinta tak harus memiliki, karena mencintai tidak terbatasi dimensi ruang dan waktu, bisa dimana saja dan setiap saat. Gagal memiliki tidak berarti gagal mencintai.

Saya pun kembali tersenyum, tak banyak komentar. Sebab saya memang tak banyak mengerti tentang cinta. Yang saya tahu, bahwa cinta itu suci, maka jangan dibunuh rasa itu, tapi bingkailah dengan cahaya.
Maka tetaplah mencinta kawan...Wallahu alam.

4 komentar:

atikah mengatakan...

Mana mungkin kita mampu membunuh rasa itu. Mencintai adalah kesediaan berkorban, tak akan merasakan sakit ketika ditolak, karena mencintai hanyalah ingin mencintai, tak peduli akan dicintai atau tidak.

kkyazid mengatakan...

betul, selama cinta itu tulus. :)

Athifah Dahsyamar mengatakan...

ckckkc, saya kira biokim ji kita tau kak, ternyata urusan cinta juga jago, hehe..
kangenku lama tidak berkunjung ke blogta', makin keren :)

kkyazid mengatakan...

hehehe... saya malah mu belajar dari mbah tipong. hehehe....

Poskan Komentar

Budayakan tinggalkan komentar setelah membaca apalagi mencopy abis... Plis Deh...