Laman

MIASIS HIDUNG

PENDAHULUAN
Miasis adalah infestasi larva lalat ke dalam suatu jaringan hidup termasuk manusia. Myasis hidung ialah terdapatnya infestasi larva (belatung = ulat ) dari lalat pada hidung manusia. Penyakit ini sering ditemukan pada negara-negara masyarakat golongan sosial ekonomi rendah. Diantara lalat penyebab myasis di dunia, lalat Chrysomya bezziana mempunyai nilai medis yang penting karena bersifat obligatif parasit.Infestasi myasis pada jaringan akan mengakibatkan berbagai gejala tergantung pada lokasi yang dikenai. Larva yang menyebabkan myasis dapat hidup sebagai parasit di kulit,jaringan subkutan,soft tissue,mulut,traktus gastrointestinal,sistem urogenital,hidung,telinga dan mata. Higiene yang buruk dan bekerja pada daerah yang terkontaminasi, melatarbelakangi infestasi parasit ini. Manifestasi klinik termasuk pruritus,nyeri,inflamasi,demam,eosinofilia dan infeksi sekunder. Penyakit ini jarang menyebabkan kematian.
Myasis hidung merupakan kasus yang jarang ditemukan dan di Indonesia tidak banyak dipublikasikan. Dari beberapa kasus yang pernah dilaporkan, masih belum ada keseragaman dalam mengelola kasus myasis. Ada yang dengan manipulasi ringan tanpa menggunakan zat-zat yang berbahaya, tetapi juga ada yang menggunakan zat-zat yang cukup berbahaya seperti premium dan sebagainya.

KARAKTERISTIK Chrysomya bezziana
Chrysomya bezziana adalah serangga yang termasuk dalam famili Calliphoridae,ordo diptera,subordo Cyclorrapha ,kelas Insecta. Lalat dewasa berukuran sedang berwarna biru atau biru kehijauan dan berukuran 8-10mm, bergaris gelap pada thoraks dan pada abdomen bergaris melintang. Larva mempunyai kait-kait dibagian mulutnya berwarna coklat tua atau coklat orange. Lalat dewasa meletakkan telurnya pada jaringan hidup dan hewan berdarah panas yang hidup liar dan juga pada manusia misalnya pada luka, lubang-lubang pada tubuh seperti mata,telinga,hidung,mulut dan traktus urogenital. Siklus hidup C.bezziana berkisar 9-15 hari dan lalat dewasa meletakkan rata-rata 150-200 telur setiap 2 atau 3 hari. Pada suhu 300C setelah 12-18 jam, larva stadium I muncul dari dalam telur dan bergerak dipermukaan luka atau pada jaringan yang basah. Larva ini berubah menjadi larva stadium II setelah 30 jam dan larva stadium III setelah 4 hari. Larva stadium I berwarna putih dan memiliki ukuran panjang 1,5mm, larva stadium II berukuran 4-9 mm dan larva stadium II berukuran 18mm. Larva menyerupai cacing yang mempunyai 11 segmen dengan kait-kait anterior berlokasi pada segmen kedua dan kait-kait posterior berlokasi pada segmen terakhir. Larva juga memiliki tanduk yang dapat mengelilingi setiap segmen tubuhnya. Kait-kait anterior memiliki 4-6 bibir. Larva stadium II dan III menembus jaringan hidup dari host dan hidup dari jaringannya. Pada saat makan hanya kait-kait posterior yang tampak. Larva Stadium III meninggalkan luka setelah makan dan berubah menjadi pupa dan kemudia lalat dewasa .

GEJALA KLINIK
Sakit kepala,terutama daerah sekitar hidung.Hidung tersumbat diikuti rasa sesuatu bergerak-gerak di dalam rongga hidung.Kadang-kadang disertai epistaksis.

PEMERIKSAAN
Tampak hidung bengkak, kemerahan sekitar mata dan sebagian muka bagian atas.Pada kavum nasi tampak keropeng-keropeng dan ulat bergerak-gerak.Mukosa hidung nekrotik,kadang-kadang perforasi septum nasi.Hidung berbau busuk.

DIAGNOSIS
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan pemeriksaan fisis dimana kadang-kadang dapat ditemukan larva yang bergerak-gerak dalam hidung.

PENATALAKSANAAN
Prinsip penatalaksanaan myasis adalah dengan menghilangkan faktor penyebab myasis disertai mengeluarkan larva yang ada.Masih terdapat ketidaksesuaian pendapat antara beberapa penulis tentang penanganan myasis. Terapi model kuno dengan menggunakan obat insektisida (DDT) tetapi sangat membahayakan dan sekarang telah ditinggalkan. Sebagian penulis menganjurkan pemberian reagen tertentu (misalnya kloroform, premium) yang dapat melumpuhkan larva, kemudian larva tersebut diambil satu persatu. Pendapat lain mengemukakan tindakan pengambilan larva yang masih hidup tanpa pemberian reagen tertentu. Ada pula pendapat untuk tindakan irigasi perhidrol 3% setiap hari dan pemberian analgetik kuat. Tindakan operatif dengan melakukan nekrotomi merupakan tindakan alternatif lain dengan sebelumnya daerah tersebut ditetesi kloroform.
Untuk mengetahui seberapa aman reagen yang dipergunakan perlu diketahui macam-macamnya :
Kloroform
Kloroform dapat dipakai dalam terapi myasis secara tunggal maupun kombinasi dengan bahan lain. Secara kimia rumus CHCL3 merupakan inhalan yang dapat dipergunakan sebagai bahan anestesi umum.
Efek samping langsung yang sering terjadi antara lain :
1. Fibrilasi ventrikel
2. Inhibisi vagal
3. Depresi myocardium
Efek samping yang terjadi akibat pemakaian kloroform dalam waktu lama adalah toxic hepatitis. Pemakaian kloroform 2% dalam waktu lama juga dapat menyebabkan respirasi arrest.
Bensin (Premium)
Merupakan zat toksik pada tubuh manusia.Gejala yang terjadi berupa mual, muntah, sakit kepala, penglihatan terganggu, mabuk, koma, depresi sentral dan depresi pernapasan. Apabila terjadi keracunan secara kronis dapat terjadi sakit kepala kronis, rasa logam dalam mulut, diare, anemia, paralise dan kejang serta kelainan tulang.
Perhidrol
Perhidrol atau secara kimia H2O2 merupakan larutan yang mempunyai kemampuan menjadi H2O dan melepas O2. Dalam sediaan farmasi berupa H2O2 30% dan 100% tetapi bersifat iritatif. Sediaan yang cukup aman berupa sediaan H2O2 3% meskipun demikian masih ada rasa nyeri pada jaringan tubuh manusia. Perhidrol merubah homeostasis sekitar larva sehingga larva berusaha keluar.
Untuk memastikan terapi yang tepat terhadap myasis perlu suatu penelitian invitro yang mampu membunuh larva myasis tetapi tidak toksik terhadap tubuh manusia. Salah satu penelitian yang dilakukan oleh balai penelitian veteriner Bogor menyimpulkan bahwa pemberian ekstrak heksan daging biji Srikaya (Annona squamosa L) berpengaruh terhadap pertumbuhan larva C.bezziana.

KOMPLIKASI
Sering terjadi deformitas hidung berbentuk “saddle nose”. Perforasi septum nasi, radang pada orbita dan ekstensi intrakranial. Kematian banyak disebabkan karena sepsis dan meningitis.

3 komentar:

dimas mengatakan...

Wah. Blog yg bagus, banyak ilmu ni. Dunia medis okay juga trnyata. Saya cm tau coding, SQL, exploit, cs3. Ada yg lain ga 0m?

kkyazid mengatakan...

Terima kasih Dimas, cuma sharing sj dan msh hrs banyak belajar.:-)

Risma... mengatakan...

Wahh, blog nya sangat sangat bagus sekali, dan terimakasih atas info nya

Poskan Komentar

Budayakan tinggalkan komentar setelah membaca apalagi mencopy abis... Plis Deh...