Laman

Jangan salahkan Messi ...


Benar-benar sial nasib Timnas Argentina setelah hanya mampu bermain imbang 1-1 dengan tim lemah Bolivia pada pertandingan pembuka, kembali mereka tampil mengecewakan pada pertandingan kedua melawan Kolombia dimana mereka hanya mampu bermain dengan skor kacamata.

Dengan hasil ini, kini mereka sangat terjepit dan terancam gagal di 'kandang sendiri'. Hanya mengantongi 2 poin dan tercecer di peringkat 3 klasemen grup A, sungguh di luar ekspektasi semua orang.
Padahal, kalau menilik daftar nama-nama yang dibawa S. Bastista sungguh sangat menakutkan lawan. Liat saja di depan ada topskorer BPL, Carlitos dan top skorer UEFA Champions League serta Runner up El Pichichi, El Messiah. Belum lagi ditambah Higuain dan Aguero. Tengah? apalagi! Ada Mascherano, Pastore, Banega, Cambiasso, dan Di Maria. Seharusnya jika merujuk dari nama-nama besar di atas, Argentina setidaknya membuktikan kualitas mereka sebagai tim unggulan.
Setelah melihat dua pertandingan yang telah dilakoni Argentina, setidaknya saya bisa mengambil kesimpulan bahwa ada kesalahan strategi yang diterapkan oleh Bastista. Kalau selama ini kita belum melihat aksi maksimal Messi, itu bukan karena kualitas Messi yang dibawah standar seperti ketika dia bermain di Barcelona. Kesalahan mendasar dari pola 4-3-3 atau 4-1-2-3 Bastista adalah tidak adanya playmaker yang tugasnya membagi bola. Akibatnya, Messi seperti harus membagi tugasnya di depan dan di tengah lapangan, sehingga seringkali dia lebih banyak di tengah (tugas yang seharusnya diemban sang playmaker). Menyerahkan tugas tersebut pada Banega, sepertinya tidak sepenuhnya dipahaminya. Justeru, Cambiasso yang lebih dominan mengambil peran tersebut.
Setelah tidak masuknya Riquelme, Argentina sebetulnya tidak kehilangan talenta. Sebut saja salah satunya adalah Pastore, peran playmaker dilakoninya dengan baik di Palermo. Tapi entah kenapa Bastista di dua pertandingan lalu memasang 3 gelandang bertahan. Tentu saja, Argentina kehilangan roh lapangan tengah di dua pertandingan tersebut. Kedua, masih dipasangnya Lavezzi sebagai salah-satu tridente merupakan kesalahan fatal Bastista. Liat saja, beberapa kali dia terlihat kalah beradu dengan bek Kolombia. Menurut saya, formasi Argentina yang pas ada tridente Tevez/Di Maria (kiri), Higuain (tengah), dan Messi(kanan) di depan. Kemudian, Pastore sebagai playmaker dan ditopang 2 gelandang bertahan Cambiasso dan Mascherano. Belakang? sama saja.
Hmm... Akhirnya, saya ingin melihat Argentina mampu memberikan bukti kesahihannya sebagai raja Amerika Selatan tahun ini. Setidaknya pada pertandingan terakhir di grup A nanti terlebih dahulu membantai Kosta Rika untuk bisa lolos di fase knockout. Harapan yang sama tentu ada pada anda, bukan?

0 komentar:

Poskan Komentar

Budayakan tinggalkan komentar setelah membaca apalagi mencopy abis... Plis Deh...