Laman

FAKTOR RISIKO INKONTINENSIA URIN PADA WANITA

Inkontinensia urin (IU) merupakan keluarnya urin yang tidak terkontrol yang mengakibatkan gangguan hygiene dan sosial dan dapat dibuktikan secara objektif. Inkontinensia ini dapat terjadi dengan derajat ringan berupa keluarnya urin hanya beberapa tetes sampai dengan keadaan berat dan sangat mengganggu penderita.
Inkontinensia urin dapat mengenai perempuan pada semua usia dengan derajat dan perjalanan yang bervariasi. Walaupun jarang mengancam jiwa, IU dapat memberikan dampak serius pada kesehatan fisik, psikologi, dan sosial pasien, serta dapat berdampak buruk bagi keluarga dan karier pasien.

Di Amerika serikat saat ini tercatat 13 juta orang mengalami IU dengan 11 juta di antaranya berjenis kelamin wanita. Dua puluh lima persen wanita antara usia 30-59 tahun pernah mengalami IU, sementara pada individu berusia 60 tahun atau lebih, 15- 30% menderita IU.
Studi epidemiologi di negara-negara barat menunjukkan prevalensi sekitar 25-55 %. Prevalensi IU menurut Asia Pacific Continence Advisory Board (APCAB) sebanyak 20,9-35%, dimana perempuan lebih banyak menderita (15,1%) daripada laki-laki (5,8%). Prevalensi IU di Indonesia belum ada angka pasti. Dari hasil beberapa penelitian didapatkan angka kejadian berkisar antara 20 % sampai dengan 30%. Prevalensi ini bervariasi di setiap negara karena banyak faktor, diantaranya adalah adanya perbedaan definisi inkontinensia yang dipergunakan, populasi sampel penelitian, dan metodologi penelitian.
Inkontinensia urin merupakan suatu gejala dan bukan merupakan suatu penyakit, oleh karena itu penanganan kasus IU dilakukan dengan pendekatan multidisiplin. Diagnosis banding IU cukup luas dengan banyak penyebab. Terkadang lebih dari satu faktor penyebab terlibat, sehingga penegakan diagnosis dan terapinya menjadi lebih sulit. Membedakan etiologi ini merupakan hal yang penting karena setiap kondisi memerlukan pendekatan terapi yang berbeda.
Beberapa faktor risiko yang berperan dalam terjadinya inkontinensia urin telah dikemukakan oleh beberapa ahli, di antaranya:
1. Usia
Bertambahnya usia telah diterima sebagai salah satu faktor risiko inkontinensia urin dalam konsensus inkontinensia urin oleh National Institutes of Health pada tahun 1988. Banyak penelitian menunjukkan peningkatan prevalensi IU dengan bertambahnya usia. Melville baru-baru ini melaporkan bahwa prevalensi IU sekitar 28% pada wanita berusia 30-39 tahun dan 55% pada wanita berusia 80-90%. Peningkatan prevalensi pada wanita manula mungkin disebabkan oleh kelemahan otot pelvis dan jaringan penyokong uretra terkait usia. Apalagi, faktor-faktor pada manula seperti gangguan mobilitas dan/atau kemunduran status mental yang dapat meningkatkan risiko episode inkontinensia.
2. Herediter
Beberapa peneliti mempertanyakan apakah terdapat dasar genetik dalam atrofi dan kelemahan jaringan penyokong yang menyebabkan terjadinya inkontinensia urin stres. Mushkat dkk. menguji prevalensi inkontinesia urin tipe stres pada turunan pertama dari 259 wanita. Sebagai kontrol, mereka mengumpulkan data pada turunan pertama dari 165 wanita (sesuai umur, paritas, dan berat badan) tanpa inkontinensia urin tipe stres diperiksa di sebuah klinik ginekologi. Prevalensi inkontinensia urin stres hampir 3 kali lebih tinggi (20,3% berbanding 7,8%) pada wanita turunan pertama dari wanita dengan inkontinensia urin. Data ini menunjukkan bahwa mungkin ada penurunan sifat secara familial yang dapat meningkatkan insiden inkontinensia urin stres.
3. Obesitas
Beberapa penelitian epidemiologik telah menunjukkan bahwa peningkatan Indeks Massa Tubuh (IMT) merupakan faktor risiko yang signifikan dan independen untuk inkontinensia urin semua tipe. Fakta menunjukkan bahwa prevalensi inkontinensia urge maupun stres meningkat sebanding dengan IMT. Penelitian SWAN menunjukkan peningkatan sekitar 5% kemungkinan kebocoran setiap unit kenaikan IMT.
Secara teori, peningkatan tekanan intra-abdominal serupa dengan peningkatan IMT yang sebanding dengan tekanan intravesikal yang lebih tinggi. Tekanan yang tinggi ini mempengaruhi tekanan penutupan uretra dan menyebabkan terjadinya inkontinensia. Deitel dkk (1988) melaporkan penurunan yang signifikan pada prevalensi dari inkontinensia urin stres, dari 61% menjadi 11% pada 138 wanita obese yang telah menurunkan berat badan setelah operasi bariatrik. Penurunan berat badan mungkin mengatasi inkontinensia sebelum terapi spesifik lebih lanjut.
4. Ras/etnis
Hubungan antara etnis dan inkontinensia urin adalah kompleks. Meskipun telah dipercaya bahwa wanita Afro-Amerika mempunyai prevalensi urge incontinence yang lebih tinggi dibandingkan wanita kulit putih, tetapi Fultz melaporkan prevalensi IU 23% pada wanita kulit putih dan 16% pada wanita Afro-Amerika. Lebih terbaru, hasil peneltian SWAN, dengan mencakup wanita-wanita multietnis berumur antara 42-52 tahun, mengindikasikan bahwa wanita non-kulit putih mungkin kurang melaporkan adanya inkontinensia dan hal tersebut tidak menunjukkan hubungan antara etnis dan beratnya IU.
Perbedaan ras telah dilaporkan berhubungan dengan beberapa pelvic floor disorders, meskipun belum jelas apakah perbedaannya biologis atau sosiokultural (berhubungan dengan akses ke fasilitas kesehatan atau mungkin kesadaran mencari fasilitas kesehatan), atau keduanya, atau karena faktor lain. Tingkat risiko berbeda mungkin didasarkan pada genetis atau sifat anatomis; faktor gaya hidup seperti diet, olahraga, kebiasan; atau espektasi dan toleransi budaya akan gejala inkontinensia.
5. Persalinan dan Kehamilan
Sebagian besar wanita mengalami inkontinensia urin selama kehamilan, tetapi umumnya dari mereka hanya sementara saja. Banyak penelitian mengungkapkan tingginya prevalensi inkontinensia urin pada wanita hamil dibandingkan wanita nullipara. Suatu penelitian pada 305 primipara, 4% mengalami stress incontinence sebelum kehamilan, 32% selama kehamilan, dan 7% pada masa post partum. Kehamilan dan obesitas menambah beban struktur dasar panggul dan dapat menyebabkan kelemahan panggul yang pada akhirnya menyebabkan inkontinensia urin.
Persalinan menyebabkan kerusakan sistem pendukung uretra, kelemahan dasar panggul akibat melemah dan mereganggnya otot dan jaringan ikat selama proses persalinan, kerusakan akibat laserasi saat proses persalinan penyangga organ dasar panggul, dan peregangan jaringan dasar panggul selama proses persalinan melalui vagina dapat merusak saraf pudendus dan dasar panggul sesuai kerusakan otot dan jaringan ikat dasar panggul, serta dapat mengganggu kemampuan sfingter uretra untuk kontraksi dan respon peningkatan tekanan intraabdomen atau kontraksi detrusor. Jika kolagen rusak, maka origo maupun insersio otot menjadi kendur sehingga mengganggu kontraksi isometrik. Hal ini menyebabkan mekanisme fungsi yang tidak efisien dan hipermobilitas uretra. Pemakainan forseps selama persalinan dapat memicu IU. Tingginya usia, paritas, dan berat badan bayi tampaknya berhubungan dengan IU.
6. Menopause
Sejumlah besar reseptor estrogen berafinitas tinggi telah diindentifikasi terdapat di m.pubokoksigeus, uretra, dan trigonum vesika. Interaksi estrogen dengan reseptornya akan menghasilkan proses anabolik. Akibatnya bila terjadi penurunan estrogen terutama pada traktus urinarius perempuan menopause akan mengalami perubahan struktur dan fungsi. Estrogen dapat mempertahankan kontinensia dengan meningkatkan resistensi uretra, meningkatkan ambang sensoris kandung kemih, dan meningkatkan sensitivitas α-adrenoreseptor pada otot polos uretra.
Penurunan estrogen saat menopause menyebabkan penipisan dinding uretra sehingga penutupan uretra tidak baik. Defisiensi estrogen juga membuat otot kandung kemih melemah. Jika terjadi penipisan dinding uretra dan kelemahan otot kandung kemih, latihan fisik dapat membuka uretra dengan tidak diduga-duga.
Selain itu, defisiensi estrogen yang menyebabkan atrofi urogenital sehingga sedikit responsif terhadap rangsangan berkemih merupakan gejala yang menyertai menopause.
7. Histerektomi
Peran histerektomi terhadap terjadinya inkontinensia urin masih kontroversial. Perubahan hubungan anatomis, seperti denervasi dasar panggul saat histerektomi, dapat menyebabkan inkontinensia urin paska operasi. Thom dan Brown, pada sebuah tinjauan literatur, mencatat bahwa tidak ada peningkatan risiko inkontinensia dalam 2 tahun pertama setelah histerektomi. Tetapi banyak penelitian lain secara konsisten menemukan adanya peningkatan risiko IU setelah histerektomi. Melville melaporkan, pada sebuah suvei terhadap 6000 wanita berusia 30-90 tahun, yang sementara menderita depresi mayor, diabetes dan mempunyai riwayat histerektomi mempunyai hubungan yang signifikan dengan inkontinensia urin yang berat.
8. Merokok
Merokok telah diidentifikasi sebagai faktor risiko independen untuk terjadinya inkontinensia urin dalam beberapa penelitian, dengan efek terkuat terlihat pada inkontinensia urin tipe stres dan campuran pada perokok berat. Mekanisme patofisiologi mungkin efek langsung pada uretra dan tidak langsung, dimana perokok umumnya terjadi peningkatan tekanan kandung kemih akibat batuk, yang melampaui kemampuan uretra untuk menutup rapat.

DAFTAR PUSTAKA
1. Suparman, E. dan Rompas J. Inkontinensia urin pada perempuan menopause. Majalah Obstetri Ginekologi Indonesia, 2007. Hal. 48-54
2. Wiratmoko, A. Tesis: Pola inkontinensia urin pada wanita usia diatas lima puluh tahun. Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, 2003.
3. Vitriana. Evaluasi dan manajemen medis inkontinensia urin. Bagian Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi FK-UNPAD, 2002.
4. Santoso, BI. Inkontinensia urin pada perempuan. Majalah Kedokteran Indonesia, Vol:58, No:7, Juli 2008.
5. Wai, CY. Urinary incontinence in williams gynecology. McGraw-Hills Companies, 2008. p. 1026-35
6. Fahron, A. Tesis: Faktor-faktor yang berhubungan dengan inkontinensia urin tipe stres pada perempuan usia lanjut di RSCM Jakarta. Universitas Indonesia, 2006.
7. Winkjosastro, H. (editor ketua). Beberapa aspek urologi pada wanita dalam ilmu kandungan. Ed.2. Cetakan 7. Jakarta: PT. Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 2009. Hal: 460-5
8. Rajan, SS and Kohli N. Incontinence and pelvic floor dysfunction in primary care: epidemiology and risk factors in urogynecology in primary care. London: Springer-Verlag London Ltd, 2007. p. 1-4
9. Saigal, C. and Litwin MS. Epidemiology of female urinary incontinence in female urology, urogynecology, and voiding dysfunction. New York: Marcel Dekker, 2005. p. 45-8
10. Weber, AM and Walters MD. Epidemiology of incontinence and prolapse in vaginal surgery for incontinence and prolapse. London: Springer-Verlag London Limited, 2006. p. 11-8
11. Elder, R. and Kelleher C. Urogynecology in handbook of gynecology management. London: Blackwell Science Ltd, 2002. p. 292-7

6 komentar:

icha_chaca-doncha mengatakan...

mkch yha bwt bahn bacaan na, salam..

yazid annabhani mengatakan...

ok deh icha, sami-sami...

atika_unniie mengatakan...

dapet info ini darimana? ada sumbernya gak,,, mau dipake buat skripsi nih,,, makasih

kkyazid mengatakan...

ini referat saya dulu, wordnya masih ada klo sdr mau nanti sy kirimkan melalui email.

princess kodok mengatakan...

haloo...
bisa gak di kirim ke email saya jg, soalnya mau tau sumbernya dari mana aja :)

kkyazid mengatakan...

halo princess...
klo mau hub email sy nanti sy balas berikut softcopy referatnya.
kkyazid@gmail. com

Poskan Komentar

Budayakan tinggalkan komentar setelah membaca apalagi mencopy abis... Plis Deh...