Laman

Bahagia (ternyata) sederhana saja

Bagiku merasa bahagia itu sederhana saja, seperti potongan hari yang diberikan Allah di awal pagi, saat membuka mata dan berterima kasih, atas denyut nadi dan helaan nafas yang masih utuh, pada cahaya yang membuka tirai warna, aroma daun dan hawa embun, pada suara-suara alam yang mengalun, hembusan angin dan terang langit.

Bagiku menikmati bahagia itu sederhana saja, saat cukup dengan secangkir minuman hangat dilengkapi sepotong kue manis menemani pagi yang bersahaja. Memulai hari dengan menghadapkan wajah, menyerahkan urusan sepenuh hati, memohon rahmat saat matahari naik meninggi di waktu dhuha.

Bagiku mengundang bahagia itu sederhana saja, hadir ketika menemukan senyum pada wajah saudara dan sahabat, bertukar salam yang mengandung doa, sapaan yang saling menyokong, dengan kalimat-kalimat yang bertenaga.

Bagiku menjadi bahagia itu sederhana saja, yaitu perasaan yang menyertai kerja yang dilaksanakan dengan tulus, setia menampung keluhan-keluhan orang-orang itu, menyambutnya dengan senyum, menyapanya dengan santun dengan bahasa dan air muka yang cerah, menyentuhnya dengan lembut, memenuhi harapannya, selanjutnya menyerahkan kembali urusan kepada-Nya.

Bagiku merayakan bahagia itu sederhana saja, setelah kerja tunai, ketika waktu tiba manghadapkan lagi wajah hati kepada pemilik hidup, menegaskan kembali janji suci; sungguh shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk-Mu. Lalu doa lolos satu persatu, kesah dimuarakan dan harapan dipanjatkan.

Bagiku menyelami bahagia itu sederhana saja, saat rehat dan saat merenung, ketika hening menelusuri perjalanan ke dalam, semakin jauh semakin bening, lalu di ujungnya ada jujur yang terang.

Bagiku melukis bahagia itu sederhana saja, seperti kala senja menikmati warna langit di horizon, indah, mengagumkan dan penuh misteri. Sepotong waktu yang sering mengundang haru dan rindu.

Bagiku mengakrabi bahagia itu sederhana saja, ketika malam menghampar bintang dan membanggakan sang rembulan, semua sempurna indah. Lalu hari digenapkan dengan doa dan prasangka baik atas semua keputusan-Nya.

Bagiku menyempurnakan bahagia itu sederhana saja, saat membuka mata lagi di awal pagi dan kembali berterimaksih memuji Allah yang Maha tinggi.
Jadi sungguh, berbahagia itu sederhana saja, dengan belajar menerima dan mensyukuri apa yang telah Ia beri.

..." Jika engkau bersyukur, maka akan kutambahkan (nikmat-Ku), dan jika engkau kufur (ingkar), sesungguhnya siksa-Ku amat pedih ( Ibrahim: 7)

Maka beruntunglah orang yang bersyukur yang akan mujur dan makmur. Dan yang tak pandai bersyukur, tunggulah ia akan hancur dan lebur.

Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Lukman, yaitu "Bersyukurlah kepada Allah. dan barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa kufur (tidak bersyukur),sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".(Luqman : 12)

5 komentar:

Maya mengatakan...

makasih dah diingatkan kak ^^
ijin copy 1 paragraf yah.. paragraf pertama..hehehe

paste disini: http://aya06fkuh.multiply.com/journal/item/294/Curhat_dikit_

athirah mengatakan...

keep hamasah...

athirah mengatakan...

bagi2 kebahagiaan yah kak.. hehe..

yazid annabhani mengatakan...

@maya : silahkan... maaf baru sempet balas.
hehe...
@thi2 : iya... tetap semangat! mari berbahagia
sama2. hehe...
*jangan cemberut klo baru sempet direply
di sini. hehe...

athirah mengatakan...

iy kak..

Poskan Komentar

Budayakan tinggalkan komentar setelah membaca apalagi mencopy abis... Plis Deh...